SUMEDANG, GORIAU.COM - Di ruangan ICU RSUD Sumedang, Jawa Barat, Jumat (12/12), pukul 15.20, Sang Guru Kalbu, Een Sukaesih (52) meninggalkan kita untuk selama-lamanya.

Setelah dua minggu mengalami gangguan lambung dan paru-paru, Ibu Een, panggilan bagi sang guru kita, meninggal dunia.

Keluarga yang saat itu sedang menunggui perawatan Bu Een tak bisa menahan tangisnya. Lemas sudah seluruh badannya saat mengetahui informasi dari paramedis bahwa tak ada lagi reaksi yang ditunjukkan alat bantu nafas dan nadi.

Sang Khalik telah memanggil guru kalbu yang beralamat di Batu Karut, Cibeureum Wetan, Kecamatan Cimalaka ini.

Menurut penuturan Ny Nining, salah satu keluarganya, Ibu Een mengeluhkan mual di lambungnya. Namun, karena masih bisa ditangani rasa sakit dan mualnya, Bu Een enggan dirawat di rumah sakit. Alasannya, ia sedang mengajarkan anak didiknya belajar menari untuk persiapan peresmian Rumah Pintar.

"Teh Een tidak mau dirawat karena sedang melatih anak-anak. Kegiatan sehari-hari belajar bersama anak-anak pun tak mau ia lewatkan, jadi masih bertahan di rumah saja," kata Nining.

Namun, setelah dua minggu tidak membaik, Bu Een dilarikan ke rumah sakit, Selasa (9/12), dengan dijemput menggunakan kendaraan ambulan dari RSUD Sumedang.

Di rumah sakit, tak banyak yang bisa dilakukan dokter karena kondisi medis Bu Een sudah komplikasi. Selama 24 jam, peraih penghargaan SCTV Awards Tahun 2013 ini terus muntah-muntah.

Rabu (10/12), pukul 13.00, Bu Een tidur karena waktu tidurnya terganggu akibat rasa mual. Sejak saat itu, Bu Een tak sadarkan diri dan langsung di rawat di Intensive Care Unit RSUD Sumedang.

"Sejak di ICU ada kontak dan reaksi sedikit-sedikit, tapi entah itu sadar atau tidak, hingga akhirnya Teh Een meninggal dunia," kata Ny. Nining.

Bu Een lahir di Sumedang, 10 Agustus 1963. Pada usia 18 tahun atau pada 1981, Bu Een sakit. Namun, semangat belajarnya tinggi sampai ia menyelesaikan program diploma jurusan bimbingan konseling di IKIP Bandung. Pada usia 24 tahun, Een mendapatkan kesempatan menjadi CPNS.

Namun, takdir berkata lain, ketika hendak tes prajabatan di luar kota, Bu Een sakit parah dengan merasakan kesakitan pada tulang dan sendinya.

Sejak saat itu, Bu Een divonis menderita Rhematoid Arthritis atau radang sendi akut. Kaki dan tangannya terus mengecil. Selama hampir 30 tahun sampai akhirnya dipanggil Sang Khalik, Bu Een hanya bisa tergolek di kasurnya.

Meski hanya tergolek di tempat tidur, Een tak pernah berhenti mengajar. Atas dedikasinya itu, selain menerima penghargaan SCTV Awards Tahun 2013, Een juga pernah diundang Presiden SBY ke Istana Negara.

Jenazah dimakamkan di Batu Karut, Cibeureum Wetan, Cimalaka, hari ini, Sabtu (13/12).

Bu Een kini telah tiada, namun semangat dan ketulusannya sebagai guru akan selalu hidup, terutama dalam hati mereka yang pernah menjadi anak didiknya. Selamat jalan, sang guru kalbu. ***